Sekali berarti - Sesudah itu mati (CA)

Sekali berarti - Sesudah itu mati (CA)
Yang Muda Yang Berlari
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Februari 2014

Esai "Yang Tidak Sia-sia dari Sastra"

Yang Tidak Sia-sia dari Sastra

Oleh: Arinda Risa Kamal*


Politisi bisa saja menganggap sastra sebagai igauan belaka. Pengusaha, PNS, pegawai bank, petani, penambak udang, pedagang, buruh, pengangguran atau apresiator lain boleh juga menilai sastra sebagai keindahan hayalan saja. Meskipun akademisi dan praktisi sastra begitu teguh menganggap sastra sebagai obat, estetik bahasa, pemikiran, sari pati kehidupan, atau bahkan profesi, tapi siapapun tetap boleh berpikir apa saja tentang sastra. Ya, mengapa tidak? Bukankah hari ini sastra memang telah menjadi sesuatu yang semu dan ambigu?

Meskipun secara keilmuannya sastra telah mengukuhkan diri sebagai suatu hal yang lebih dari sekedar definisi yang disepakati, tapi dalam kenyataan yang lainnya, sastra masih melulu diperdebatkan, terutama mengenai fungsi dan kesastraannya itu sendiri.

Semu dan ambigunya sastra kian kentara tatkala kita mulai bertanya sejauh manakah sastra mampu menopang kehidupan (di sekitar) kita? Seampuh apakah sastra mengatasi kejanggalan yang ada? Apakah sastra akan memakmurkan sebuah bangsa? Apakah yang disebut sastra? Atau, benarkah kita masih membutuhkan sastra?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kiranya terasa menohok dan barangkali berlebihan. Tapi bagaimanapun sastra tidak akan pernah bisa kita hindarkan dari kehidupan. Sekalipun orang menganggap bahwa sastra adalah kesia-siaan−sebenarnya disadari ataupun tidak, pengakuan tersebut sekaligus pula telah mengakui keberadaan sastra bagi dirinya, meskipun sebatas sastra yang dangkal.

Sejak dahulu di tingkat Sekolah Menengah Pertama sastra telah diperkenalkan dan diajarkan kepada semua siswa. Begitupun di tingkat Sekolah Menengah Atas. Tapi karena porsi, tujuan pembelajaran sastra rasa-rasanya tak ubahnya hanya sebatas pelajaran hafalan saja. Siswa hanya menghafal nama-nama sastrawan, analisis struktural, angkatan dan beberapa karya. Sedangkan karya-karya sastranya, luput dari pembacaan. Pengalaman bersastra inilah kiranya yang membuat sastra dan fungsinya terasa berjarak dengan kehidupan secara langsung.

Berkali-kali komunitas-komunitas sastra di hampir semua daerah mengadakan acara pembacaan karya sastra, diskusi dan sebagainya. Kegiatan semacam ini menjadi ruang pembelajaran sastra non formal. Namun kegiatan-kegiatan tersebut bukanlah ruang yang benar-benar menjadikan apresiator mampu merasakan manfaat dan fungsi sastra secara mendalam.

Pada akhirnya kegiatan-kegiatan sastra dan barangkali sastra sendiri pun terkesan seperti euforia belaka. Perayaan, ya, seperti perayaan. Entah merayakan apa, barangkali benar merayakan sebuah keganjilan di tengah arus genapnya kehidupan yang mulai dipengaruhi banyak hal, terutama materiil.

Kita tidak akan pernah bisa mengerti seperti apa dan bagaimana sastra jika kita tidak pernah membacanya. Kita tidak akan merasakan apa-apa dari sastra tatkala kita hanya melihat sastra dari luar saja, dari acara-acara komunitas sastra saja. Kita pun akan merasa muak dengan sastra jika sastra yang kita baca adalah karya yang bukan sastrawi. Kita tidak akan mengerti mengapa novel-novel Pramoedya Ananta Toer diberangus penguasa orde baru jika kita tidak membacanya. Kita tidak akan paham mengapa puisi-puisi Wiji Thukul dan W.S. Rendra di masa menyambut reformasi dilarang untuk dibacakan di ruang publik jika kita tidak pernah mengetahui puisi-puisinya.

Sastra sebagai salah satu karya seni berfungsi menjadi media hiburan sekaligus media pembelajaran, atau dalam istilah Horatius yang seorang filsuf adalah dulce et utile. Tapi bagaimana kita bisa mengalami diri terhibur dan tercerahkan karena sastra jika kita tidak pernah membaca karya-karya sastra? Bagaimana kita bisa mengalami fungsi estetis, fungsi etis, fungsi didaktis dan fungsi reflektif dari sastra jika membaca yang benar-benar karya sastranya pun tidak?

Seorang sahabat Rasul pernah mengungkapkan, “Ajarkanlah sastra, agar ia menjadi seorang pemberani.” Sastra memang bukan hanya satu-satunya yang menjadikan seseorang pemberani. Tapi pendapat tersebut berdasar bahwa sastra akan lebih jauh dari itu. Sastra bisa membuat seseorang mengerti, berpikir dan menemukan ideologi. Seperti yang disepakati, bahwa karya sastra yang baik adalah karya sastra yang mampu membuat pembacanya berpikir lebih mendalam karena isi sastrawinya.

Membaca karya sastra memang tidak akan membuat kita kaya raya, naik jabatan atau mengentaskan pengangguran. Tapi dengan membaca karya sastra yang baik, kita akan terus didorong untuk memahami dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Namun begitu, sastra selama tidak dibaca adalah benar sia-sia semata.

Dikarenakan hari ini karya sastra pop cenderung lebih banyak dan mudah ditemui daripada karya sastrawi, maka tentu, apresiator sastra yang baik adalah mereka yang selain membaca karya-karya sastra pop, juga membaca karya-karya sastrawi yang mampu memberikan banyak inspirasi.

Jika hari ini kehidupan telah membuat kita luput dari sastra, maka kita patut merenungkan apa yang diungkapkan Octavio Paz, seorang peraih penghargaan Nobel Sastra di tahun 1990. “Masyarakat yang meninggalkan puisi (sastra) adalah masyarakat yang tengah melakukan bunuh diri spiritual secara masal.” Jikapun hari ini kita terus merasa ragu atau bahkan antipati terhadap sastra, jangan-jangan selama ini kita telah salah membaca, dan itu artinya kita harus lebih banyak lagi membaca karya-karya sastra!(*)








*Arinda Risa Kamal, lulusan Universitas Siliwangi Tasikmalaya.
)*dok media

Senin, 09 Desember 2013

Tentang Pemilukada Kabupaten Ciamis

Tentang Pemilukada Kabupaten Ciamis

oleh: Arinda Risa Kamal*


Menjelang akhir September ini Kabupaten Ciamis akan memilih kembali Bupati dan Wakil Bupati. Ada empat pasangan calon yang telah disahkan KPU, dan semuanya masih memilki peluang untuk menjadi pemenang, yakni pemimpin dan wakil pemimpin pemerintah Kabupaten Ciamis. Dari keempat calon tersebut tersiar adanya koalisi partai-partai besar, dan hanya satu calon saja yang berjuang dari non partai.

Sampai sekarang ini partai politik barangkali benar adalah kendaraan yang paling realistis untuk mengantarkan siapapun dalam mendapatkan banyak suara. Tapi itu semua bukan berarti yang maju dari independent hanya akan mendapatkan sia-sia semata. Sebab pada dasarnya, kecerdasan politik masyarakatlah yang akan menentukan siapa pemimpinnya.

Pemasangan spanduk, baliho atau sosialisasi lainnya telah gencar dilakukan jauh-jauh hari sebelum KPU menentukan siapa saja yang sah menjajal perjudian politik selanjutnya. Masyarakat Ciamis pun gegap gempita menyambut ruang-ruang pandangannya dijejali wajah-wajah para pasangan calon yang ‘selalu terlihat’ optimis untuk memimpin Kab. Ciamis.

Sudah barang tentu semua masyarakat Ciamis berharap bahwa siapapun yang terpilih nanti akan membawa perubahan yang baik dan kearifan yang tak hanya sekedar visi-misi yang basa-basi. Pasangan S yang menang nanti tidak akan hanya memerhatikan kesejahteraan daerah P yang notabenenya adalah penyumbang suara terbanyak. Masyarakat daerah R berharap bahwa pasangan B yang menjadi pemenang akan turut serta memerhatikan kesejahteraan daerah tersebut meski tidak menjadi basis suara pemenangan. Sebab bagi kami, masyarkat kecil yang baru belajar soal politik, Bupati dan Wakil Bupati Kab. Ciamis jelas adalah pejabat yang sekaligus pelayan publik bagi seluruh wilayah serta masyarakat Kab. Ciamis.

Berbagai isu panas sekitar pemilihan pasangan pemimpin Kab. Ciamis pun menyeruak berkali-kali. Dari mulai penentuan pasangan yang diusung partai, koalisi, strategi politik, bahkan keterlibatan masyarakat Pangandaran yang kini sudah terpisah dari Kab. Ciamis pun turut serta menjadi dinamika tersendiri politik di Ciamis.

Dalam politik sendiri, sudah lumrah bahwa setiap janji-janji tidak melulu mesti ditepati. Tentang janji apapun, untuk siapapun. Ketidakpastian setiap janji politisi memang adalah kepastian itu sendiri.

Kamis 5 September 2013 di sekitaran Taman Raflesia Ciamis nampak riuh dengan kampanye dan visi-misi politik. Visi-misi dari setiap pasangan calon nampak berbeda, tapi jika kita cermati bersama, semuanya sekaligus nampak sama. Seragam, seseragam hasrat dan militansi masing-masing tim sukses.

Kampanye yang digelar pihak KPU Kab. Ciamis itu benar-benar meriah, membuat setiap pasang mata yang melihatnya terengah-engah. Mobil-mobil mewah, pesta politik yang ‘terlihat’ pongah. Lantas seorang ibu yang duduk dan berdiam di dekat saya, yang tengah memegang sebuah wadah, yang pada saat itu tepat berada di depan jajaran kampanye pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati, matanya berkaca-kaca, menyiratkan beberapa pertanyaan dalam benak saya. “Inikah pesta politik itu? Mengapa harus mewah dan megah? Mengapa begitu banyak mobil mewah? Apalah artinya pesta politik mewah dan megah bagi kalangan menengah ke bawah? Berapakah biaya yang dipakai untuk modal semuanya? Mengapa mereka sampai mau mengeluarkan uangnya? Apakah itu semua akan membuat daerah ini sejahtera ke depannya? Berapa banyakkah masyarakat yang susah tapi selalu pasrah? dan sebagainya, dan sebagainya.”

Elit politik di Kab. Ciamis tentu paham betul bagaimana situasi dan kadar politik masyarakat Kab. Ciamis. Kab. Ciamis sendiri terdiri dari daerah-daerah pedesaan, perbukitan, sawah-sawah, hutan dan pegunungan. Namun begitu, saya percaya bahwa masyarakat Ciamis adalah masyarakat yang cerdas dan berpendidikan soal politik. Masyarakat Ciamis tidak akan tergiur hanya karena janji-janji, kaos, uang sepuluh atau seratus ribu rupiah dan semacamnya.

Masyarakat tidak perlu antipati terhadap politik praktis, money politik atau segala macam iming-iming yang bisa dipergunakan untuk kesejahteraan dan kebaikan bersama. Meski dalam beberapa hal saya cenderung setuju bahwa kalau tidak akan memeberikan timbal balik, kita tidak perlu mengambil keuntungan yang ditawarkan. Tapi untuk urusan politik praktis yang memasyarakat ini, saya setuju jika masyarkat memanfaatkannya untuk kepentingan bersama. Kecuali praktik politik praktis yang menguntungkan diri sendiri atau golongan kecil saja, saya membencinya. Soal kerugian karena pada akhirnya tidak dipilih? Anggap saja bahwa itu semua adalah resiko politik seorang politisi.

Pemilukada di Kab. Ciamis mau tidak mau harus menghasilkan satu pasangan sebagai pemenang, tidak bisa dua, tiga atau empat. Harus hanya satu pasangan. Sebab jelas adalah persoalan jika pada akhirnya Pemilukada harus terjadi dua putaran, apakah itu disebabkan suara absatain atau tidak terpenuhinya suara pemenang. Persoalannya beragam, bukan hanya dari urusan anggaran, tapi dari segala hiruk-pikuk politik yang belum tentu akan menjadi sebuah perubahan.

Dalam benak saya, perubahan positif di Kab. Ciamis tidak hanya akan ditentukan oleh Bupati dan Wakil Bupati saja. Apakah itu Pasangan Bupati tua, muda, kaya, berpengalaman atau tidak. Tapi seluruh elemen pelaksana kehidupan di Kab. Ciamis. Baik itu Sekda, Pejabat daerah, dan tentu saja kita semua sebagai masyarakat. Masyarakat adalah kontrol sekaligus pelaksana kehidupan sosialnya. Yang perlu kita lakukan sebagai masyarakat adalah ikut serta menjadi bagian dari kontrol sosial sekaligus pelaksana kehidupan di Kab. Ciamis.

Masyarakat Kab. Ciamis perlu bersatu dan memegang teguh visi-misi yang lebih pasti dari para Calon Bupati dan Wakil Bupati serta para politisi. Masyarakat harus bersama-sama menuntut setiap kejanggalan yang terjadi dalam pemerintahan, sebab pada dasarnya, pemerintah adalah penentu kebijakan, dan masyarakat, adalah pemegang kedaulatan.

Siapapun yang terpilih nanti menjadi Bupati dan Wakil Bupati, kita sebagai masyarakat harus kembali memikirkan kepentingan bersama, yakni Kab. Ciamis yang kita cintai ini. Kita lepaskan semua atribut pasangan calon yang kita usung, kita bahu membahu menuntut visi-misi yang menjadi harapan kita semua. Kita akhiri segala macam bentuk ketidakadilan, ketidakmerataan, nepotisme dan segala lobi-lobi serta upeti yang kerap kali menjadi potret isu di Ciamis ini.

Semoga Bupati dan Wakil Bupati yang terpilih nanti, Pejabat Pemerintahan serta masyarakat Kab. Ciamis bisa benar-benar bahu membahu membangun Ciamis yang kita cintai ini.

Selamat menjalankan demokrasi, selamat memilah dan memilih Pasangan Bupati. Selamat mempertanyakan nurani, selamat memperbaiki Ciamis yang kita cintai ini.



*Arinda Risa Kamal lahir dan besar di Ciamis. Lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

***Catatan: Judul telah saya ubah. Namun begitu, untuk isi masih sama seperti yang termuat di rubrik Opini Kabar Priangan.

Minggu, 24 Maret 2013

Esai tentang Puisi di Sebuah Program Studi

Sebuah Catatan dari Puisi Nisa Amalia
oleh, Arinda Risa Kamal*

            Belum lama rasanya saya mengenal Nisa Amalia, seorang perempuan yang memilih menjadi mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Siliwangi Tasikmalaya, mungkin sekitar satu tahun yang lalu. Waktu itu kami sama-sama memulai untuk menjadi pengurus di salah satu organisasi internal jurusan di kampus. Saya sempat mendengar bahwa ia seorang anak yang cerdas. Ya, saya percaya. Sebab paling tidak, nilai IPK-nya menunjukan di atas tiga koma lima. Sekarang ia duduk di semester empat, dua semester di bawah saya.

            Sebagai civitas academica yang berkutat dalam bahasa dan sastra Indonesia, puisi tentunya menjadi salah satu bagian dari berbagai hal yang kami kenali dan pelajari. Saya tahu bahwa semua mahasiswa satu jurusan pernah menulis puisi, karena menulis puisi memang diwajibkan dalam beberapa mata kuliah. Tetapi saya tidak pernah benar-benar merasa yakin bahwa mereka menulis puisi berdasar keterpanggilan yang tumbuh dari dalam diri mereka sendiri (meskipun saya sendiri sebenarnya belum merasa yakin apakah saya sudah menulis puisi berdasar keterpanggilan diri sendiri atau belum). Itu semua paling tidak bertitik tolak dari penilaian saya yang hanya melihat sepinya mading kampus, buletin internal kampus, atau media masa lokal di Tasikmalaya yang sama-sama sepi dari puisi teman-teman mahasiswa satu jurusan. Padahal beberapa waktu lalu, saya merasa bahagia bisa membaca puisinya Tri Wahyuni, Shinta Rosiana, Eva Nurhayati Asih, Deska Pratiwi, Feysur Bashit, Ricky Komara Putra, dan Beni Setiawan (ini hanya sederet nama yang puisinya pernah saya baca di media masa, mudah-mudahan masih banyak nama lain yang puisinya tidak terbaca oleh saya).

            Ketika pertama kali Nisa Amalia memperlihatkan puisinya kepada saya, saya merasa bahagia, terkejut, sekaligus teringat pada nama-nama perempuan yang puisinya pernah terbaca di media masa. Meskipun sebenarnya saya membaca puisi Tri Wahyuni, Shinta Rosiana, Eva Nurhayati Asih dan Deska Pratiwi hanya satu kali saja di media masa, tetapi saya merasa bahwa puisi-puisi mereka sendiri telah membuat saya yakin akan bakat puitik yang mereka miliki.

             Keteringatan saya akan puisi yang pernah ditulis teman-teman perempuan, disebabkan kerinduan saya akan puisi-puisi mereka. Karena selama ini, meskipun puisinya tergolong langka muncul di media masa, teman laki-laki yang selama ini memiliki ketertarikan dalam puisi, sering memperlihatkan bahkan membahas puisi mereka secara bersama-sama. Baik itu ketika perkuliahan berlangsung, atau ketika menikmati kopi di kamar kontrakan. Komunikasi yang terus dijalin teman laki-laki kadang-kadang membuat saya berpikir apakah hal serupa juga terjadi di kalangan perempuan, baik itu sekedar silaturahmi, diskusi, menonton film bersama, atau bahkan saling meminjam buku bacaan.

            Dari sekian banyak puisi yang pernah diperlihatkan Nisa (nama panggilan Nisa Amalia), beberapa puisi sudah mulai menunjukan usaha yang serius dari Nisa ketika menulis puisi. Meskipun dalam beberapa aspek masih terasa adanya kekakuan daya ungkap dalam mimilih metafor/idiom sebagai media puitiknya. Semua puisi Nisa yang saya baca ditulis di tahun 2011. Itu artinya selama ini Nisa kerap menulis puisi secara diam-diam. Puisi yang selama ini ditulis hanya disimpan di laci meja, dan baru beberapa bulan inilah Nisa mulai berani untuk memublikasikan puisinya di mading dan buletin kampus. Dengan kejujurannya ia mengatakan kepada saya bahwa selama ini ia memang menyukai puisi. Ia mulai membaca dan menulis puisi sejak beberapa tahun lalu, tetapi karena kebingungannya dalam hal mengomunikasikan karya, akhirnya ia memilih untuk menyimpan puisinya di laci meja belajar saja.

            Kejadian tersebut sedikit berbeda dengan teman laki-laki yang selama ini menyukai puisi, mereka kerap mengomunikasikan karyanya di antara teman laki-laki lainnya. Gairah kepenulisan yang terlihat tersekat gender tersebut kiranya memang beralasan, selain masih adanya unsur kerikuhan di antara laki-laki dan perempuan, komunikasi yang kurang baik di kalangan perempuan pun menjadi salah satu alasan lainnya. Sebab selama ini, Nisa selalu mengeluh pada saya, bahwa ia berharap kakak tingkat atau teman perempuan sejawatnya bisa melakukan kegiatan diskusi seperti halnya teman laki-laki.

***
RAPUH

Begitu cepat siang berganti malam
Meredupkan cahaya dalam kesunyian
Melangkahkan beban dalam asa, lalu tiada
Haruskah kupudarkan bahagia dan derita

Nafasku telah sesak termakan senja
Tapi belaian rasa tak pernah berbuah cinta
Hanya luka yang bergelimang
Dalam nada, dalam dada yang terluka

Kini tak ada suara lagi, tak ada apa-apa lagi
Bosan, benci, kecewa tiada henti
Hati pun tandus, termakan nasibnya sendiri

2011

                Secara keseluruhan puisi berjudul “Rapuh” yang ditulis Nisa berbicara tentang kekecewaan, keputusasaan, pesimis dan semacamnya. Dengan kelugasannya, Nisa mengungkapkan bahwa pada dasarnya manusia tidak bisa terlepas dari kebahagiaan dan penderitaan.

            Di bait pertama, secara sadar ia mengungkapakan bahwa sebenarnya waktu melesat dengan cepat dan begitu saja. Waktu sendiri pulalah yang membuatnya terus menjalani beban kehidupan dan harapan, sedang sebenarnya ia tahu bahwa kelak semuanya tiada (menemu takdir yang dipercayai sebagai sebuah akhir dari segalanya). Saat-saat seperti itu, ia kembali menegaskan bahwa sebenarnya kebahagiaan dan penderitaan adalah sesuatu yang samar dan sia-sia.

            Bait kedua dan ketiga lebih mempertegas kekecewaan dan keputusasaannya, secara pesimis ia mengakhiri puisinya dengan ungkapan bahwa sebenarnya takdir tidak dapat dipungkiri, seberapapun besar harapan dan usaha yang dilakukan.

            Meskipun pada dasarnya puisi ini mengarah pada kisah cinta yang membuatnya putus asa, tetapi melalui pendalamannya, Nisa mengungkapkan bahwa cinta yang dimaksudkannya masih memiliki kemungkinan lain, bisa cinta pada pada kekasih, orang tua, orang tersayang, atau bahkan tuhan. Ini kemungkinan disebabkan persepsinya akan kesemerawutan kehidupan yang dialami dan dilihatnya.

BERHENTI

Biarkan aku berlalu
Menjamah malam dalam sendu

Aku terpaku
Dalam senyummu
Yang memilukan hati
Pergi. Kembali. Pergi

Sementara kita hanya bosan
Sendiri, dan fana

2011

            Puisi kedua dengan judul “Berhenti” hampir memiliki nafas yang sama dengan puisi pertama, tentang kekecewaan. Puisi ini lebih terlihat sublimasinya terhadap cinta-kasih sepasang manusia. Ia mengungkapkan bahwa kejemuan pada dasarnya akan mendorong pemberontakan, seperti yang dipertegasnya pada bait pertama. Ketegasan itu terasa dengan gaya kepenulisan yang dicetak miring. Sedang pada kedua bait lainnya, ia menegaskan ihwal kekecewaan dan kesadarannya akan sesuatu yang dianggapnya fana. “Pergi. Kembali. Pergi” ungkapnya.

            Bagi saya, dua puisi Nisa di atas cukup membuat saya yakin akan keseriusannya ketika mengolah perasaan sebagai tema dengan menggunakan bahasa sebagai medium ungkapan puitiknya. Meskipun di beberapa bagian masih terasa ada beberapa hal yang masih harus digulatinya. Seperti diksi, metafor/idiom dan semacamnya. Selain itu, Nisa masih begitu betah dengan kejelasan pengungkapan, atau terlihat seperti terjebak idiom yang mendayu-dayu dan banyak bertebaran dalam ungkapan-ungkapan yang kesannya ‘seperti’ picisan.

            Tetapi saya yakin, jika Nisa memiliki minat serius dalam menulis puisi, itu bukan persoalan selagi ia mau menggauli puisi seperti menggauli dirinya sendiri. Ia akan menemukan dan mengerti seiring keseriusannya itu sendiri, seiring bacaannya itu sendiri. Sebab menulis puisi, tidak hanya cukup bermodal intuisi.
    
     Dari banyaknya puisi yang diperlihatkan Nisa, bagi saya dua puisi di ataslah yang menarik untuk diapresiasi, tetapi hal tersebut bukan berarti puisi yang lain tidak menarik untuk diapresiasi. Ini lebih disebabkan supaya saya terfokus untuk mengapresiasi, sebab bagi saya, untuk mengapresiasi satu puisi saja rasanya membutuhkan stamina yang besar dan serius.

     Untuk selanjutnya, selain terus membaca dan menulis puisi, mudah-mudahan Nisa mulai menyadari dan melupakan pertanyaan-pertanyaan konyol seperti: Mengapa harus puisi yang saya tulis? Siapakah yang masih membutuhkan puisi? Apakah puisi dapat membuat nilai saya menjadi A? Apakah puisi dapat membuat saya menerima beasiswa? Apakah puisi dapat membuat saya terkenal? Berapa banyak puisi yang harus saya tulis untuk membiayai kehidupan saya selama satu bulan?  Apakah puisi mampu membuat saya menjadi kaya? Serta pertanyaan-pertanyaan konyol lainnya.

***
            Selama ini, geliat kepenulisan di lingkungan program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia tidak bisa terlepas dari peranan Bode Riswandi, salah satu dosen yang juga penyair dengan pengalaman dan pengetahuan sastra yang luas. Dedikasinya dalam menyambut dan memberikan dorongan bagi geliat kepenulisan begitu terbuka. Kerap kali, ia bersedia memfasilitasi bacaan bagi mahasiswanya, dan itu sangat membantu para mahasiswa yang masih merasa membutuhkan bacaan, atau mengobati ketidakpuasan mahasiswa akan koleksi buku perpustakaan (perpustakaan kampus ataupun daerah) yang hanya menyediakan buku itu-itu saja.

             Meskipun pada kenyataannya, tidak banyak mahasiswa program sudi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia yang masih memiliki minat baca. Hal tersebut kadang-kadang membuat saya berpikir, berapa persenkah teman-teman satu jurusan yang mencintai bahasa dan sastra Indonesia? Apakah ini yang menjadi dasar pemikiran para kritikus sastra yang mengungkapkan bahwa sastra di kalangan akademisi hanya sebatas euforia saja? Padahal nantinya, ketika memiliki nasib menjadi seorang tenaga pengajar, sastra dan bahasa adalah hal mutlak yang akan diajarkan terhadap anak didiknya.

            Kenyataan lain bahwa teman-teman satu jurusan justru malah menggemari karya sastra ‘picisan’ dengan label-label best seller. Mereka lebih mengenal karya sastra seperti itu dibandingkan dengan karya-karya sastra karangan Sapardi Djoko Damono, D. Zawawi Imron, Sutardji Calzoum Bachri, Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Pramoedya Ananta Toer, Iwan Simatupang, Putu wijaya, Seno Gumira Ajidarma,  Ahmad Tohari, serta nama-nama besar lainnya.

            Mudah-mudahan, Nisa Amalia adalah salah satu kalangan akademisi yang akan menjadi jembatan bagi bahasa dan sastra Indonesia. Selain itu, mudah-mudahan kelak Nisa mampu belajar seperti penyair perempuan Tasikmalaya lainnya, semisal Anggie Sri Wilujeng, Nina Minareli, Ratna Ayu Budiarti, Ria Arista Budiarti, Qeis Surya Sangkala, atau Afrilia Utami. Mereka adalah sederet nama perempuan yang memiliki kepedulian dan mental yang baik terhadap puisi. Sebab, Nisa, seperti yang pernah saya ungkapkan, “puisi selalu memberikan kebahagiaan yang tidak bisa saya dapati dari hal lainnya, tidak dari nilai A, tidak dari beasiswa, tidak dari nominal angka-angka, tidak dari sebatas pengakuan belaka”. Maka, Nisa, kita tidak perlu heran dan kecewa jika selama ini banyak orang-orang yang beruntung karena puisi. Sebab penyair ataupun mahasiswa, Nisa, memiliki keberuntungan dan kesialannya masing-masing.

            Dalam salah satu tulisannya, Saini K. M. pernah mengungkapkan, “dalam dunia kepenyairan sering terjadi ironi. Justru yang menghindarkan diri dari tantangan hakiki kepenyairan sering lebih dikenal masyarakat sebagai ‘penyair’. Mereka lebih terkenal bukan karena karya-karyanya, melainkan karena kegiatan-kegiatan di ‘wilayah pinggiran’ kepenyairan. Sementara itu, penyair yang sesungguhnya, yang bekerja dengan tabah seorang diri serta boleh jadi menghasilkan sedikit karya bermutu karena banyak membuang karya-karyanya yang gagal, terdesak ke luar perhatian pembaca dan masyarakat”. (*)





*Arinda Risa Kamal, mahasiswa program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia FKIP Universitas Siliwangi Tasikmalaya yang masih meyakini bahwa puisi tidak kalah penting dari skripsi.


Radar Tasikmalaya, 24 Juni 2012.

Kamis, 07 Maret 2013

Pemebelajaran Puisi (Mengakrabi Kata-kata - Sarabunis Mubarok)


MENGAKRABI KATA-KATA
Oleh, Sarabunis Mubarok

/1.

Apa itu sajak atau puisi? Dari begitu banyak orang menerangkan sajak atau puisi --mulai yang paling sederhana sampai yang paling rumit-- kiranya yang paling menarik adalah apa yang disampaikan oleh Sutardji Calzoum Bachri: “Niatmu adalah sajakmu. Apapun yang kau niatkan sajak, itulah sajakmu.”

Pengertian ini,  bisa didedahkan untuk membuka sebuah optimisme akan kegairahan menulis dan mengapresiasi puisi, sesuatu yang selama ini sering dianggap sebagai hal yang pekat dan sulit dijangkau masyarakat.

Bahwa niat penyair sangat penting bagi puisi, nafas intuisi yang akan
membawa kata-kata pada kehidupan, menjemputnya, dan dengan sendirinya akan menyampaikan niatnya (niat kata) untuk sampai pada niat sang penyair. Untuk menuju puisi, kata-kata tidak hanya bergerak dalam tabiat dengan niatnya sendiri-sendiri, ia akan berkembang dengan menyusuri berbagai lembah dengan cara dan jalannya yang kreatif bersama peta dalam niat penyair.

Kata-kata akan menemukan kreatifitas, keindahan dan kecerdasannya dari berbagai alam yang ia masuki. Masa lalu dan masa kini, kesedihan dan kegembiraan, mimpi dan kenyataan, ketakutan dan keinginan, angan-angan dan masa depan, dan segala rasa yang menyertai tubuh daging manusia dalam kehidupan.

Dalam lorong kehidupan masa kini yang serba instan, kekuatan niat penyair menjadikan kata-kata tak boleh lagi hanya bergerak di jalur-jalur yang sudah usang, ia mempelajari dirinya sendiri dari sudut-sudut lain, lalu ia memilih jalur dengan teliti, menghirup aura-aura kegelisahan yang bertenaga, bergerak dalam kombinasi daya bunyi dan nilai rasa yang tak sekedar spontan, namun menjiwainya sebagai perpaduan dari makna dan nilai yang menyegarkan kehidupan. Lalu diam-diam kata-kata akan tumbuh sebagai puisi, kelahiran yang menyihir penyairnya sendiri.

Demikianlah, dalam kekuatan niat penyair, puisi terus terlahir. Di sini, kata-kata tak lagi berputar dalam lingkaran dirinya yang menjemukan. Seperti Chairil, kata-kata ingin hidup seribu tahun lagi, melewati berbagi zaman dengan tak sekedar mengikuti arus, tapi ia meneratas pembaruan dalam berbagai perubahan zaman. Arus pembaruan untuk menghindari jebakan-jebakan yang melulu menawarkan kepastian dan kesempurnaan, sementara sejatinya kepastian dan kesempurnaan adalah juga lingkaran yang menjemukan.

/2.

Seperti juga dorongan melepaskan nafsu sexsual atau libido, pengulangan yang konvensional akan sampai pada lingkaran yang menjemukan. Disinilah tubuh-jiwa perlu pelepasan dengan cara-cara lain yang tak sekedar berhubungan badan, atau berfantasi sexsual dengan gambar-gambar film biru. Sigmund Freud, dengan psikoanalisanya menemukan bahwa cara lain pelepasan tenaga libido adalah melalui kesenian.  Melalui puisi, si penyair menggunakan tenaga dalam dirinya untuk melepaskan diri dari berbagai hal kompleks. Dalam puisinya diletakkan kemauan-kemauan dan keinginan-keinginannya sendiri.

Dengan mengutip apa yang diungkapkan Freud, penulis tak hendak membahas pengaruh psikoanalisa dalam karya sastra. Yang hendak dikemukakan adalah bahwa memilih melepaskan lingkaran menjemukan melalui menulis puisi, akan menguatkan niat penyair. Kesungguhan niat ini akan melepaskan lingkaran menjemukan yang mengurung kata-kata, menuju puisi yang dibangun dari pemilihan kata yang kreatif untuk memperoleh kesegaran baru dalam puisi. Dan pada maqam ini, sang penyair pun akan disadarkan bahwa begitu banyak sampah yang telah ditulis, dan dibacakannya dalam riuh tepuk tangan para pemulungnya.

Bagaimana dengan orang yang baru akan menulis puisi Indonesia? Tentu syarat utamanya harus bisa berbahasa Indonesia. Lalu mulailah menulis. Lupakanlah keinginan untuk menjadi Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Acep Zamzam noor, Godi Suwarna, atau para penyair manapun. Karena puisi akan menyerap sari kehidupan, dan kehidupan setiap orang berbeda-beda. Puisi menginginkan gairah-gairah baru untuk melepaskan dirinya dari kejemuan, seperti libido yang menginginkan pelepasan dengan proses kreatif yang penuh ketegangan namun sangat mengesankan.


/3.

“Aku tak bisa mengajarimu, dan tak mungkin bisa mengajarimu menulis puisi.”

“Lalu kepada siapa saya harus belajar menulis puisi?”

“Hidupmu adalah mata air puisimu, dan hanya kaulah yang bisa mengalirkannya ke sungai-sungai kegelisahan menuju muara puisimu.”

“Aku tak mengerti?”

“Ingatlah, bahwa kata-kata ada di mana-mana, ada sebelum engkau ada. Bisakah kau menghitung berapa banyak kata yang sedang bergerak saat ini? Pada detik ini saja semua manusia di seluruh dunia tengah mengucap kata, di hati dan pikiran, di mulut dan tulisan, di buku-buku, di ilmu pengetahuan, di televisi, di radio, telepon, komputer dan internet, di mana-mana. Satu detik berapa kata yang tengah bergerak? Bermilyar-milyar? Betapa riuhnya jika semua kata-kata itu dikumpulkan. Setiap detik kata-kata bergerak dalam lingkarannya yang begitu-begitu saja berulang-ulang.”

“Lalu bagaimana aku harus menulis?”

“Baiklah, saat ini berapa kata yang keluar masuk ke perpustakaan kehidupanmu? Berapa kata dari masa lalumu, berapa kata dari suka-dukamu, dari mimpi dan kenyataanmu, dari hati dan mulutmu, dari tangkapan mata dan telingamu, dari setiap detik denyut nadi, hingga kini, setelah lebih dari satu milyar detik usiamu. Berapa kata? Lalu mengapa kata-kata itu sulit sekali memasuki pintu-pintu puisimu? Ini karena kau membunuh niat penyairmu.”

“Tidak, kini aku berniat menulis puisi, lalu bagaimana dengan teori-teorinya?”

“Kata-kata adalah segala-galanya bagi puisi. Ia yang menyertai perjalanan kehidupanmu. Akrabilah ia, lalu tulislah! Tulislah apa yang paling dekat denganmu! Tulislah terus hingga menjelma puisi! Lalu bacalah! Kenalilah puisimu! Dan kenalilah teori-teori itu dari puisimu?”

/4.

Membicarakan teori puisi, tentu saja akan sangat panjang dan rumit. Ini bukan saja karena teori puisi yang terus berkembang, tapi juga penuh perdebatan seiring dengan saling berdebatnya pendekatan kritik yang satu dengan yang lainnya. Sementara puisi bukan sekedar kerja intelektual, tapi merupakan kerja seni yang memerlukan proses kreatif, sebuah kesungguh-sungguhan dalam mengakrabi kata-kata.

Untuk memulai menulis sebuah puisi, kita simpan dulu sejenak teori-teori. Sebagai kerja seni, puisi berangkat dari intuisi. Ia memasuki ruang-ruang imajinasi untuk mendedahkan pengalaman puitik sang penyair. Kata-kata tak hanya harus diserap dari sumur-sumur kehidupan, tetapi juga harus diakrabi dengan sabar dalam upaya membangkitkan kreativitas untuk melahirkan berbagai makna. Dengan mengakrabi kata-kata, ruang-ruang imajinasi akan menghembuskan berbagai gagasan kreatif, kiasan-kiasan, simbol-simbol, pencitraan dan nilai rasa.

Memasuki ruang imajinasi harus terbebas dari teori-teori. Pembebasan ini penting untuk mencongkel kreativitas dalam mengkomunikasikan pikiran dan perasaan. Kata-kata diserap dan diakrabi dari segala sisi. Keinginan, ketakutan, kegembiraan, alam, mimpi, kegilaan, fantasi tak masuk akal, menjelma hewan, menjelma benda, melintasi ruang dan waktu. Dengan pengakraban seperti ini, akan menajamkan kepekaan penyair dalam menaklukkan kata-kata sehingga menjadi lebih lentur dan segar, tidak terbatas pada makna leksikon yang sudah umum.

Lalu bagaimana dengan teori? Tentu saja teori perlu dipahami dan dikuasai. Tapi teori tidak membentuk puisi dan puisi tidak dibentuk dari teori-teori. Puisilah yang membentuk teori-teori. Secara kreatif ia akan membentuk pararelitas atau benang merah dalam dirinya, mengalir ke dalam bentuk-bentuk tipografi, pemilihan diksi, metafor-metafor, irama, intonasi, enjambemen, repetisi dan berbagai perangkat stilistika lainnya seiring dengan mengalirnya berbagai gagasan, kiasan-kiasan, simbol-simbol, pencitraan, sugesti, sensitifitas dan nilai rasa yang mengandung kejujuran dan keindahan.

Jadi mulailah menulis puisi, mulailah mencari jalan sendiri! Seperti apa yang dikatakan Jakob Sumardjo, “Menulislah seperti berenang. Dalam berenang kita tak mengingat aturan atau teori dalam buku.”


***

Salam,
Sarabunis Mubarok___________ Singaparna


akun facebook Sarabunis Mubarok: http://www.facebook.com/sarabunis

Pembelajaran Puisi (Surat Untuk Penyair Muda - Rainer Maria Rilke)


SURAT UNTUK PENYAIR MUDA – Rainer Maria Rilke

Kau tanyakan apakah sajak-sajakmu bagus. Kau tanyakan padaku. Sebelumnya kau pun telah bertanya pada yang lain. Kau kirim sajak-sajakmu itu ke berbagai majalah. Kau banding-bandingkan dengan sajak-sajak yang lain. Dan kau pun jadi terganggu ketika ada redaktur yang menolak upayamu itu. Kini, (karena kau izinkan aku menasehati kau), aku minta kau jangan lagi melakukan semua ikhtiar  semacam itu. Kau melihat ke luar, dan dari segala-galanya itulah yang kini harus tidak boleh kau lakukan.

            Tidak ada orang yang bisa menasehati dan menolongmu, tak seorang pun. Hanya satu-satunya cara yang ada: Pergilah masuk ke dalam dirimu. Temukan sebab atau alasan yang mendorongmu menulis: Perhatikan apakah alasan itu menumbuhkan akar yang di dalam ceruk-ceruk hatimu. Bikinlah pengakuan pada dirimu sendiri, apa kau harus mati jika sekiranya kau dilarang menulis. Pertama-tama tanyakan dirimu dalam ketenangan malam: haruskah aku menulis? Menukiklah ke dalam lubuk dirimu agar kau mendapat jawaban yang dalam. Dan jika jawabannya ya, jika pertanyaan yang khidmat tadi dijawab dengan sederhana dan mantap ”aku harus”,  maka binalah dirimu sesuai dengan keharusan itu. Hidupmu, baik pada saat-saat yang paling remeh dan sepele sekalipun, haruslah merupakan bukti dan kesaksian dari dorongan menulis itu.

Kemudian cobalah dekati alam. Lantas usahakan seakan-akan kau adalah salah seorang dari orang-orang pertama yang mengatakan apa yang kau lihat dan apa yang kau alami, yang kau cintai dan kehilangan-kehilanganmu. Jangan tulis sajak cinta. Jauhi dahulu bentuk-bentuk yang sangat familiar dan biasa itu. Karena bentuk yang semacam itu adalah yang paling sulit.

Di dalam tradisi yang bertaburan dengan karya bagus dan sebagian cemerlang itu, diperlukan kekuatan besar dan penuh dewasa untuk bisa memberi sumbangan individual. Maka itu, dari tema-tema umum, berpalinglah pada apa yang diberikan oleh kehidupanmu sehari-hari; Lukislah dukacita dan keinginan-keinginanmu. Pikiran-pikiran yang melintas dalam dirimu. dan keyakinanmu dalam suatu keindahan tertentu. Lukiskan semuanya itu dengan sepenuh hati, sungguh-sungguh, rendah hati dan ikhlas. Gunakanlah benda-benda di sekitarmu, imaji-imaji dirimu dan kenangan-kenanganmu untuk mengekspresikan dirimu.

Jika kehidupanmu sehari-hari terasa miskin dan gersang, jangan sesalkan  dirimu, katakanlah pada dirimu, kepenyairanmu tidak cukup untuk dapat menggali kekayaan dirimu. Karena bagi setiap pencipta tidak ada kegersangan dan tidak ada tempat yang penting dan gersang. Bahkan jika kau sekiranya berada dalam penjara dengan tembok-temboknya yang menjauhkan kau dari suara dunia, -- bukankah kau tetap masih memiliki masa kanak-kanakmu sebagai gudang khazanah kenangan yang kaya raya? Perhatikanlah itu. Cobalah bangkitkan kembali sensasi-sensasi yang tenggelam dari masa lampau yang jauh itu. Kepribadianmu akan lebih kuat tumbuhnya, kesunyianmu akan berkembang menjadi tempat tinggal yang temaram dimana suara-suara yang lain lewat di kejauhan.

Dan jika dari menengok ke dalam ini, dari menyelam ke dalam ini, dari menyelam ke dalam dunia pribadimu ini, akan muncul sajak-sajak. Tidak usah kau tanyakan pada siapapun apa sajakmu itu sajak yang baik. Juga tak perlu kau upayakan agar majalah dan koran-koran menaruh perhatian terhadap karya-karyamu itu. Karena karyamu itu dalah milikmu yang sejati dan berharga, suatu bagian dan suara dari kehidupanmu. Suatu karya seni menjadi baik jika tumbuh dari kebutuhan yang wajar. Dari cara ia berasal. Di situlah letaknya. Penilaian yang benar: tidak ada cara lain. Maka itu, aku tidak bisa memberi nasihat kecuali ini:  pergilah masuk kedalam dirimu, galilah sampai ke dasar tempat kehidupanmu berasal; pada sumbernya itu, kau akan mendapatkan jawaban apakah kau memang harus mencipta. Dengarkan suaranya, tanpa terlalu cerewet menyimak kata-kata.
Barangkali memang sudah merupakan panggilan bahwa kau harus jadi seniman. Maka terimalah takdirmu itu, tanggungkan naik bebannya maupun kebesarannya, tanpa minta-minta penghargaan dari luar dirimu. Karena seorang pencipta haruslah menjadi sebuah dunia bagi dirinya sendiri, dan menemukan segala-galanya di dalam dirinya sendiri, serta di dalam Alam tempat dirinya berada.

Namun setelah masuk ke dalam diri dan  ke  dalam  kesendirianmu,   mungkin kau harus melepaskan keinginanmu untuk menjadi penyair; (bagi saya, seseorang bisa hidup tanpa harus menulis daripada samasekali berspekulasi untuk itu). Meskipun demikian, upaya memusatkan perhatian ke dalam diri sendiri yang kuanjurkan itu, tidaklah sia-sia. Bagaimanapun juga hidupmu sejak itu akan menemukan jalannya sendiri. dan kuharapkan hidupmu menjadi baik dan kaya serta tinggi pencapaiannya lebih dari apa yang bisa aku ucapkan.

Apa lagi yang harus kukatakan? Rasanya segala telah mendapat tekanan yang wajar. Akhirnya aku ingin menasehati agar mau menumbuhkan dirimu secara serius. Tidak ada cara yang lebih ganas menghalangi pertumbuhanmu kecuali dengan melihat ke luar, dan upaya mengharapkan jawaban dari luar, terhadap pertanyaan-pertanyaanmu yang agaknya hanya perasaanmu yang paling dalam dan saat-saatmu yang paling hening bisa menjawabnya”.***

Diterjemahkan oleh :
Sutardji Calzoum Bachri
dari LETTERS TO A YOUNG POET
karya penyair Jerman Rainer Maria Rilke




(Edisi lengkap sembilan surat Rilke kepada penyair muda bisa dibaca di buku: Surat-surat Kepada Penyair Muda dan Sejumlah Sajak, terjemahan Tia Setiadi, 2012, Yogyakarta: MK Art Books)

Pembelajaran Puisi (Bakat Seni - Saini K. M.)


BAKAT SENI
oleh, Saini K. M.


Kepenyairan merupakan panggilan, bukanlah hasil keinginan. Lalu bagaimana halnya dengan bakat kepenyair-an, khususnya, dan bakat seni umumnya? Ada dua sikap dan pendapat   yang bertentangan perihal bakat.  Di satu pihak terdapat pendapat yang pesimistik. Seseorang, demikian pendapat pihak ini, tidak dapat menjadi penyair atau apapun tanpa bakat yang dibawa sejak lahir. Pendapat semacam ini terlihat dalam berbagai ungkapan misalnya seni tidak bisa diajarkan. Dengan demikian seseorang yang ‘merasa’ tidak berbakat, tidak dapat berbuat apa-apa,  kecuali prihatin atau cemburu kepada mereka yang berbakat di bidang apapun. Pendapat sebaliknya menyatakan bahwa bakat terdiri dari 99% kerja keras. Einstein, merupakan salah seorang yang berpenda-pat semacam itu. Dengan demikian pendapat tersebut meremehkan apa yang disebut dengan bakat. Jelas pula  bahwa pendapat semacam itu lebih bersipat optimistik. Bagi mereka yang memiliki cukup kemauan  untuk bekerja keras, sesuatu yang berharga sebagai karya, akhirnya akan tercapai.

Di antara dua sikap dan pandangan tersebut, pengasuh cenderung mengambil sikap optimistik, meskipun bukan tanpa syarat-syarat.

Syarat pertama, adalah motivasi yang benar. Jika seorang remaja tiba-tiba terlibat dalam kegiatan berpuisi, baik membaca-nya maupun menulis dan membicarakan-nya, hendaknya remaja tersebut membuka kesempatan bagi dirinya sendiri untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan seba-gai berikut: Apakah saya benar-benar tertarik pada puisi? Tidakkah saya hanya terbawa-bawa orang lain saja? Tidakkah saya terlibat kegiatan tersebut semata disebabkan pemuda/pemudi  yang  menarik perhatian saya kebetulan berada di lingkungan tersebut? Atau jangan-jangan kita tidak mencintai puisi, dan hanya sekedar ingin terkenal? Benarkah kita mencintai puisi karena menemukan nilai tertentu dalam puisi yang tidak diberikan oleh karya atau kegiatan lain? Jika saya menulis puisi, benarkah saya ingin mengungkapkan sesuatu yang tidak terungkapkan dalam bentuk lain? Dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan terse-but perlu diajukan kepada diri sendiri hingga anda yakin bahwa anda bergiat di bidang tersebut karena minat yang otentik (sejati).

Syarat kedua adalah kesediaan untuk bekerja keras. Anda harus meluangkan waktu, perhatian dan tenaga untuk membaca karya-karya puisi yang besar, jika mungkin dalam bahasa asing selain karya bangsa sendiri. Selain itu, perlu pula membaca karya-karya kritik yang baik tentang puisi, dan sudah barang tentu,  mulailah menulis puisi. Ini berarti anda harus meninggalkan kegiatan-kegiatan yang membuang waktu seperti begadang, ngobrol semalaman, keluyuran, main kartu, dan sebagainya.

Syarat ketiga adalah kesediaan untuk gagal. Penilaian berhasil dan gagalnya sebuah karya seyogianya pertama-tama datang dari diri sendiri. Jika anda menulis sajak yang menurut anda bagus, janganlah tergesa-gesa percaya pada penilaian diri-anda sendiri. Simpan dan lupakanlah sajak tersebut untuk beberapa bulan, untuk kemudian anda baca kembali. Boleh jadi, ketika anda membacanya kembali, anda justru mentertawakan diri sendiri. Penilaian gagalnya puisi anda, dapat pula dari orang lain yang anda percaya misalnya redaktur koran atau majalah. Namun, dalam kaitan ini anda harus waspada. Belum tentu pendapat mereka benar dan pendapat anda keliru. Tidak jarang kritikus terkenal pun membuat kekeliruan dalam menilai, bukan saja karena mereka pun manusia, melainkan mereka pun tidak selalu berada dalam kedudukan yang baik, untuk menilai, misalnya terlalu sibuk dan sebagainya. Sekalipun demikian, pendapat mereka meskipun keliru menurut anda akan memberi kesempatan kepada anda untuk meninjau karya anda dari sudut pandang yang sebelumnya boleh jadi tidak anda ambil.

Syarat keempat adalah kesediaan untuk tidak dihargai. Menulis, pertama-tama merupakan upaya konsolidasi diri. Komunikasi, dengan demikian sekedar tindak lanjut, dari upaya pertama, janganlah terlalu termakan oleh pujian dan ejekan orang jika anda merasa bahwa dengan menulis puisi anda secara rohaniah menjadi lebih siap dalam menghadapi kehidupan. Bagaimanapun  juga, kita berpuisi bukan semata untuk berpuisi, melainkan untuk hidup dan kehidupan.***


dikutip dari buku "Puisi dan Beberapa Permasalahannya" - Saini K.M. disunting dan disusun oleh Agus R. Sarjono

Minggu, 10 Februari 2013

Liputan dan Tanggapan dari Salah Satu Kegiatan di Tanah Kelahiran

GELAR BUDAYA PURNA KALA
Refleksi Akhir Tahun Seniman Ciamis

Jika selama ini kesenian masih dianggap sebagai milik para praktisi kesenian saja, lalu apa manfaatnya bagi masyarakat?
Ada berbagai alasan yang menjadikan kesenian selama ini seolah berjarak dengan masyarakat, baik itu dari praktisi kesenian, masyarakat, pemerintah, ataupun kesenian itu sendiri.
Kesenian sebagai salah satu bagian dari budaya tentu ada hubungannya dengan masyarakat. Selain sebagai hiburan, kesenian juga berperan penting dalam membentuk pola pikir masyarakat. Melalui kesenian masyarakat dapat membentuk pola pikirnya tentang berbagai hal, termasuk budaya dan kehidupan.
Di penghujung tahun 2011, generasi muda di Kecamatan Kawali menggagas sebuah kegiatan seni tradisi Sunda yang bertajuk "Gelar Budaya Purna Kala". Kegiatan ini diprakarsai oleh Pandu Radea, Rd. Ega Anggara Kautsar serta generasi-generasi muda di Kawali. Purna Kala yang dalam bahasa Sunda mempunyai arti menyempurnakan waktu, dipakai sebagai nama kegiatan yang memang digagas untuk menghayati, mensyukuri, sekaligus memberikan arti yang positif bagi peristiwa pergantian tahun itu sendiri. Selain itu, kegiatan yang memang sebagian besar diisi oleh acara-acara kesenian ini memiliki tujuan untuk memasyarakatkan seni, terutama seni-seni tradisi Sunda yang mulai dilupakan atau tergeser oleh sebuah arus budaya baru dari luar. Jika di sebagian daerah acara pergantian tahun lebih identik dengan euforia, suara-suara terompet, dentuman dan kilauan kembang api, musik-musik bising, atau kemolekan gadis-gadis dancer, maka Kawali menyuguhkan sesuatu yang berbeda, yakni kesenian tradisi, karnaval budaya, bahkan lomba mewarnai, khitanan masal, dan penganugerahan budaya pun masuk dalam rangkaian acara.
Kegiatan yang dilaksanakan dari pukul 09.00 sampai 00.30 dini hari ini (31 Desember 2011 sampai 01 Januari 2012) mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Bukan hanya dari masyarakat Kawali saja, bahkan se-Ciamis utara. Antusiasme masyarakat begitu terasa ketika mereka rela datang dari jauh, berdesak-desakan, dan menikmati setiap acara yang disajikan. 
"Kegiatan yang bertempat di Alun-alun Kecamatan Kawali ini, terlaksana berkat dukungan dari berbagai pihak dan partisipan, baik itu pemerintahan atau di luar pemerintahan," ujar Rd. Ega Anggara, ketua panitia. Rencananya kegiatan ini akan menjadi agenda tahunan Kecamatan Kawali. Kawali yang selama ini dikenal dengan situs purbakala Astana Gede dan Kerajaan Galuhnya mencoba untuk menghidupkan kembali potensi-potensi kesenian, terutama kesenian tradisi Sunda yang selama ini kurang mendapat perhatian, atau bahkan mulai terlupakan masyarakatnya.
Acara pertama khitanan masal, kemudian lomba mewarnai untuk mengapresiasi bakat dari generasi-generasi penerus di Kawali. Selepas Dzuhur, kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan dan pelepasan karnaval budaya yang dihadiri Wakil Bupati, Dandim, Koramil, dan beberapa pejabat lainnya. Karnaval budaya dimeriahkan oleh para peserta yang terdiri dari berbagi kalangan masyarakat. Wayang Landung yang dipergelarkan menjadi daya tarik tersendiri dalam karnaval ini. Karnaval ini sendiri digelar sebagai bentuk pengenalan seni-seni tradisi sekaligus silaturahmi bagi masyarakat dan para pengguna jalan.
Sesampainya di tujuan akhir karnaval, yakni panggung utama yang terletak di Alun-alun Kecamatan Kawali, semua peserta karnaval disuguhi penampilan pencak silat yang memukau dari kelompok silat Isbatul Husna, dari Kecamatan Panumbangan Kab. Ciamis. Kelompok silat yang telah berdiri sejak 1996 ini kini telah menjadi bagian kurikulum beberapa sekolah di Kecamatan Panumbangan, baik itu tingkat SMP ataupun SMA. Isbatul Husna sendiri memang sangat memprioritaskan generasi muda sebagai anggota kelompoknya. "Supaya mereka dapat mengenal dan melestarikan seni bela diri nenek moyangnya," ujar Neni, kordinator kelompok silat Isbatul Husna.
Sore harinya wayang landung yang telah dianggap sebagai salah satu seni tradisi di Kab. Ciamis kembali mempertunjukan keeksotisannya. Berbeda dengan penampilan-penampilan wayang landung sebelumnya, kini wayang yang memiliki ukuran setinggi 5 meter ini diduelkan. Setiap wayang ini memegang sesuatu yang menyerupai gada, dan ini dipakai sebagai senjata untuk mengalahkan lawannya. Acara ini ternyata mampu menyita perhatian dari masyarakat, bahkan beberapa masyarakat diperkenankan untuk ikut mencoba memainkan wayang raksaa ini. Pandu Radea sebagai pencipta seni wayang landung sendiri menjelaskan bahwa gelaran ini dinamai jogol landung. "Gelaran jogol landung memiliki filosofi hukum rimba, bahwa kita hidup di dunia ini sebenarnya harus mampu bertahan dari segala bentuk tantangan atau serangan, baik itu yang bersifat fisik, ataupun pemikiran," katanya.
Penghargaan
Menjelang malam hari acara dilanjutkan dengan longser wayang. Konsep dari longser wayang sendiri sebenarnya merupakan lawakan yang dikemas dalam bentuk perpaduan longser dan wayang. Ada tokoh lengser yang bertugas sebagai penata acara. Longser ini pun berdialog interaktif dengan para pemain sekaligus penonton. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi kejenuhan bagi penonton. Sebelum memasuki cerita wayang, longser wayang ini menampilkan kesenian-kesenian tradisi Sunda dari anak-anak SD dan SMP di Kawali. Ada "Sarining Ronggeng", "Dangding Patareman", dan "Kawih Panambih". Lagi-lagi, penonton dibuat terkagum-kagum akan bakat seni tradisi dari anak-anak seusia SD dan SMP.
Sarining Ronggeng sebagai seni tari yang mengadaptasi kesenian ronggeng ini mampu dimainkan secara piawai oleh gadis-gadis belia. Dangding Patareman merupakan banyolan anak-anak yang sudah jarang dimainkan. Penampilan Dangding Patareman nampak megah ketika tambahan gerakan serta vokal yang saling bersahutan menghiasi pertunjukan dari keluguan anak-anak. Selanjutnya penampilan Kawih Panambih. Kawih Panambih merupakan sekar irama yang dipadukan dengan penambahan rampak kecapi yang dimainkan oleh anak-anak. Penampilan-penampilan tersebut menjadi daya tarik dan kenikmatan tersendiri bagi para penonton.
Setelah itu wayang pun digelar. Pertunjukan wayang ini diperankan oleh manusia. Mereka yang menjadi wayang adalah para pelawak yang sudah mempunyai nama di Ciamis. Ada Mak Apay, Papa, Kancil dan Sablon. Lakon wayang ini bercerita tentang pemilihan lurah (pemimpin). Ani Sumarna sebagai dalang bercerita dengan sangat menghibur. Ia memainkan para pelawak senior sebagai keluarga Semar. Mak Apay sebagai istri Semar. Papa, Kancil dan Sablon berperan sebagai Cepot, Gareng dan Dewala. Semar yang diceritakan menjadi lurah berniat lengser sebelum dilengserkan oleh orang lain. Kemudian dilakukanlah pemilihan lurah (pemimpin) tersebut. Anak-anak dari semar semuanya sama-sama berambisi besar untuk duduk di kursi kepemimpinan menggantikan ayahnya. Mereka berkampanye, membujuk rakyat dan saling membanggakan akan kemampuan masing-masing. Bahkan seperti dalam panggung politik di negara kita, mereka hampir bertengkar, meski mereka sadar bahwa mereka adalah saudara.
Menjelang tengah malam panitia menyediakan sebuah kejutan bagi salah satu praktisi seni tradisi yang ada di Kab. Ciamis. Mak Apay, wanita berusia 67 tahun ini yang mungkin paling terkejut. Ia mendapat penganugerahan budaya dari pihak panitia sebagai maestro seni tradisi. Ini semua merupakan penghargaan atas kiprahnya dalam berkesenian. Ia berkesenian sejak usia 7 tahun, dan selama itu pulalah ia telah merambah berbagai genre seni tradisi, terutama yang berasal dari Kab. Ciamis.
Suasana haru tidak pula dirasakan panitia dan Mak Apay saja, masyarakat pun bersorak memberikan sambutan, malam itu seolah-olah mereka memahami perasaan Mak Apay yang larut dalam keharuan.
Ruwatan Purna Kala
Tengah malam ketika tiba saatnya mengganti tahun 2011 dengan tahun baru 2012, ruwatan purna kala pun digelar. Ini merupakan acara puncak dari seluruh rangkaian acara. Satu orang panitia ditugasi untuk membawa obor kecil dan memanjat tiang dari bambu yang di atasnya telah tersedia obor besar, dan sesampainya di atas, obor tersebut pun dinyalakan. Ini sebagai suatu simbol refleksi kehidupan, yang artinya bahwa kita harus berjuang untuk meraih harapan baru yang lebih baik di masa yang akan datang, meski di masa sekarang kita hanya berbekal sesuatu yang kecil.
Masyarakat paham bahwa saat itu mereka telah menginjak waktu yang baru, dan setelah obor besar menyala, mereka ada yang merenung, menikmati dentuman suara-suara lodong karbit yang telah disediakan panitia. Tak sedikit dari masyarakat yang langsung memeriahkannya dengan suara-suara klakson kendaraan, terompet atau bahkan kembang api yang telah dianggap sebagai identitas pergantian tahun selama ini.
Refleksi dari setiap rangkaian acara nampaknya tertangkap di hati setiap individu yang datang saat itu. Bukan hanya sekedar terhibur, mereka seolah telah menuntaskan kerinduannya akan seni tradisi yang selama ini memang sulit untuk dikenali. Bagaimana tidak, kini setiap hajatan lebih terbiasa dengan orkes-orkes atau sejenisnya. Padahal dahulu, seni tradisi semacam ini menjadi kebanggaan si empunya hajat ketika mampu menampilkan kesenian semacam ini dalam hajatannya. Keberlangsungan itulah sebenarnya yang menghidupi para seniman tradisi, sehingga seni tradisi hidup sebagai sebuah kebanggan masyarakat.
Kegiatan semacam ini pada dasarnya menjadi batu loncatan akan kelangsungan seni tradisi dan hubungannya dengan masyarakat. Masyarakat bisa mengenal kembali seni-seni tradisi yang telah diwariskan leluhurnya, dan para seniman tradisi bisa kembali mengobati kebahagiaan perjuangan berkesenian yang selama ini memang susah diperjuangkan.

Jika saja pemerintah cepat tanggap, secara tidak langsung kegiatan ini telah menjadi simbol bahwa masyarakat memang merindukan gelaran seni tradisi nenek moyangnya. Mudah-mudahan setelah kegiatan Gelar Budaya Purna Kala ini, seni tradisi kembali hidup di tengah-tengah masyarakat, baik itu dihidupkan oleh hajatan-hajatan masyarakat, ataupun pemerintahan, amin.***




Arinda Risa Kamal. Lahir dan besar di Kawali. Bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST), Teater 28, dan Beranda 57.





Gelaran berbagai kesenian tradisi dalam acara yang bertajuk “Gelar Budaya Purna Kala” di Alun-alun Kec. Kawali, Kab. Ciamis, Sabtu (31/12/11) hingga memasuki pergantian tahun 2012. Kegiatan ini disambut antusias oleh masyarakat di Ciamis utara. Tampak dalam gambar, tarian “Sarining Ronggeng” yang disajikan oleh siswi SMP N 1 Kawali, pagelaran wayang landung, dan Mak Apay (kiri), salah seorang seniman kahot Ciamis yang mendapat penghargaan dari panitia Gelar Budaya Purna Kala. Kegiatan semacam ini diharapkan menjadi agenda tahunan pemerintah Kec. Kawali, Kab. Ciamis


(Kabar Priangan, 04 Januari 2012)